header image

What do you really do?

Posted by: sabar02 | August 4, 2009 | No Comment |

Apa yang akan Anda jawab ketika seseorang bertanya kepada Anda, “Apa pekerjaan Anda?” Mungkin Anda akan menjawab bahwa Anda adalah seorang engineer, atau Anda seorang salesman, atau Anda seorang guru, atau mungkin Anda seorang ibu rumah tangga. Salahkah dengan jawaban itu? Tentu saja tidak. Namun pernahkah Anda berpikir bahwa apa pun pekerjaan Anda haruslah menggoreskan makna yang dalam bagi Anda.

Ketika Presiden John F. Kennedy mencanangkan proyek raksasa mengirimkan manusia ke bulan, bangsa Amerika Serikat bahu membahu mendukung pemerintahnya untuk mewujudkan impian itu. Pada suatu hari, presiden Kennedy ingin mengunjungi tempat persiapan pembuatan roket Apollo untuk memastikan progres pembuatannya. Pagi-pagi benar, staf keamanan JFK menyusuri ruangan-ruangan di tempat itu untuk memastikan tidak ada hal yang berbahaya bagi sang presiden. Ketika ia memasuki ruangan, ia bertemu dengan seorang tenaga pembersih yang sedang menyapu ruangan itu. Sang staf keamanan itu dengan curiga menegur orang itu dengan berkata, “Sedang apa kamu di sini?” Petugas pembersih itu dengan lantang menjawab, “Saya sedang membantu bangsa ini mengirim manusia ke bulan.” Sungguh merupakan jawaban yang sangat mempesona dari seseorang yang bangga akan pekerjaannya.

Jika setiap orang bersikap demikian, maka seorang agen properti ketika ditanya apa pekerjaanya dengan semangat menjawab, “Saya membantu orang-orang menemukan istana idaman dengan lingkungan yang terbaik.” Seorang agen asuransi sukses akan berkata, “Saya membantu setiap keluarga untuk mendapatkan jaminan yang lebih pasti akan masa depan mereka.” Seorang guru akan berkata, “Saya membantu negeri ini menyiapkan pemimpin-pemimpin yang hebat bagi masa depan”. Seorang engineer telco seperti saya, akan menjawab, “Saya membantu agar setiap orang dapat berkomunikasi dengan lancar, menghubungkan silaturahim keluarga yang terpisah karena jarak, atau yang lebih nasionalis, saya membantu agar presiden dan para pemimpin negeri ini dapat senantiasa berkomunikasi untuk membangun bangsa”. Sungguh pekerjaan yang sangat membanggakan.

Buatlah arti yang dalam terhadap apa yang Anda kerjakan!

under: Relaxation
Tags:

Blokir iklan flash dengan Flashblock

Posted by: sabar02 | May 18, 2009 | No Comment |

Sangat menyebalkan ketika kita browsing di internet banyak muncul iklan-iklan dengan format flash. Selain mengganggu keberadaanya juga memperlambat kinerja browser. Coba saja Anda buka situs detik.com. Di situ akan disajikan berbagai iklan flash yang sangat mengganggu. Dari sisi teknis memang iklan dengan format flash jadi lebih menarik, tampilan gambar bergerak membuat iklan lebih ‘hidup’ dan tidak membosankan, namun di sisi pengguna, iklan itu sangat mengganggu, karena tidak jarang akan memunculkan pop up - pop up untuk mengklik iklan tersebut.

Untuk mengatasinya bisa dicoba menggunakan Flashblock (hanya untuk browser Mozilla, Firefox, Netscape). Piranti ini dapat di download gratis di situs:

http://flashblock.en.malavida.com/d4750-free-download-windows .

Dengan Flashblock, setiap iklan flash (termasuk content yang bukan iklan) akan di blokir dan diganti dengan simbol ‘f’ (logo flash) dan jika suatu saat kita ingin melihat iklan atau content flash tersebut cukup mengklik pada simbol tersebut.

Dengan Flashblock kinerja browser jadi lebih baik dan kita tidak terganggu oleh iklan-iklan flash yang muncul. Selamat mencoba!

under: Tips Komputer
Tags: ,

Membuat ISO file

Posted by: sabar02 | April 7, 2009 | No Comment |

Pernah menginstal program atau game tetapi ketika ingin menjalankan program atau game itu harus memasukkan CD/DVD ke dalam drive komputer? Menyebalkan rasanya. Bukan hanya karena ‘ribet’, tapi juga tidak praktis. Bayangkan aja kalo tiba2 ternyata CD/DVD itu rusak karena tergores atau hal lainnya, atau kalo CD/DVD drive kita tiba2 ngadat. Capek dehh…

Solusinya? Atau lebih tepatnya ‘cara mengakalinya’?

Ubah saja CD/DVD itu menjadi ISO file. Dengan menggunakan Daemon Tools, kita bisa membuat sebuah virtual drive (CD/DVD drive) yang secara fisik tidak ada, namun CD/DVD drive itu akan muncul di Windows Explorer kita. Namanya juga virtual. Dengan Daemon Tools ini kita bisa memuat (mount) file ISO (dari CD/DVD program atau game) yang telah kita buat.

Caranya?

Nih dia langkah2nya:

1. Download Daemon Tools di sini, yang akan digunakan untuk membuat virtual drive pada komputer.

2. Download Folder2Iso di sini, yang akan digunakan untuk membuat ISO file (emulasi dari CD/DVD/folder)

3. Buat file ISO dari CD/DVD: Jalankan program Folder2Iso. Misalkan kita akan membuat emulasi CD game PES2009 yang ada di drive F:

Klik ‘Select folder’ untuk memilih CD/DVD/Folder yang akan dibuat menjadi ISO file.

Klik ‘Select Output’ untuk meletakkan dimana file ISO tersebut akan disimpan.

Beri nama ‘Label Of The ISO’, ini identik dengan label CD/DVD yang akan kita buat emulasinya. Sebaiknya diisi sama dengan label CD/DVD di drive F:

Trus, tinggal klik ‘Generate Iso’ dan selesai deh membuat file ISO-nya.

4. Langkah berikutnya adalah menginstal Daemon Tools yang telah di download. Setelah selesai, akan muncul logo Daemon Tools di systray (pojok kanan taskbar)

Untuk memuat file ISO yang telah dibuat, klik (kiri) mouse, lalu pilih Device 0 : [G:] No Media

lalu cari file ISO yang telah dibuat.

Dengan cara seperti ini sebuah CD/DVD virtual telah dimasukkan ke dalam sebuah drive virtual juga. Program atau game yang mengharuskan untuk memasukkan CD/DVD dalam menjalankan program tidak akan bisa membedakan virtual drive tersebut dengan drive ‘beneran’.

Untuk merubah setting virtual drive dsb, klik kanan pada logo Daemon Tools.

Selanjutnya?

Enjoy your game!!!

under: Tips Komputer
Tags: , , ,

Konohagakure: The Beginning

Posted by: sabar02 | March 23, 2009 | No Comment |

Tak terasa kini Sasuke telah melewati masa ABGnya. Masa2 itu adalah saat terindah dalam hidupnya. Di sebuah desa terpencil, ia hidup bahagia bersama keluarga dan teman2nya. Hingga kini Sasuke telah lulus dari bangku kuliah. Baginya, semua itu sangatlah berarti dan tidak akan pernah dilupakannya.

Namun kini, Sasuke mulai menginjak dewasa. Seperti kebanyakan ninja-ninja yang lain. Untuk membuktikan siapa dirinya, ia harus mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya. Untuk belajar lebih banyak lagi. Untuk mencari jati dirinya, dan menunjukkan pada penduduk kampung bahwa suatu saat ia bisa menjadi seorang Hokage, seorang pemimpin tertinggi, bukan hanya di desanya kalau bisa menjadi Hokage negeri ini.

Iapun mulai mengembara, hingga akhirnya sampailah ia di sebuah kampung kecil. Ia lalu memutuskan untuk berhenti sejenak. Di sana ia disambut hokage kampung itu. Hokage tersebut berasal dari negeri Kan. Maka kebanyakan ninja2 di sana juga berasal dari negeri Kan. Sasuke mulai belajar ilmu2 baru di kampung tersebut. Awalnya ia mencoba menyerap ilmu2 yang diajarkan, namun ternyata chakra yang ada di dalam diri Sasuke, berbeda dengan chakra yang ia dapat dari Tuan Hokage tersebut. Terlebih lagi, ia kurang bisa bergaul dengan orang2 dari negeri Kan. Maka kemudian ia memutuskan pergi dari kampung tersebut setelah berada di sana kurang dari satu bulan. Tuan Hokage begitu kecewa, namun ia kemudian bisa mengerti keinginan Sasuke.

Sasuke kembali mengembara. “Huh, ternyata kehidupan di luar kampungku tidak enak. Aku rindu kampung halamanku”. Sasuke mulai mengeluh. Namun, ketika ia ingat kata-kata pamannya, “Jangan pernah kau kembali, sebelum tercapai cita2mu”, maka surutlah keinginannya untuk pulang ke kampungnya.

Tak berapa lama kemudian, sampailah Sasuke di sebuah desa. Dari luar gerbang, desa ini terlihat lebih makmur dari sebelumnya yang ia kunjungi. Ada beberapa ninja Penjaga di pintu gerbang. Mereka terlihat garang. “Hai, anak muda. Siapa dirimu dan ada perlu apa datang ke desa Konoha ini”. Tanya ninja Penjaga itu dengan garang. Dengan sedikit gagap, Sasuke menjawab, “Na.. nama.. ss.. sa.. ya Sasuke. Saya telah mengembara jauh hingga sampai di kampung ini. Saya ingin belajar di desa ini”. “Baik, tapi sebagai pendatang, isi formulir ini. Setelah itu kamu temui seorang ninja Jonin di gedung itu untuk mengurus masalah administrasimu”. Ternyata administrasi desa ini sangat ketat. Setelah mengucap terimakasih, Sasuke kemudian menuju ke sebuah gedung yang ditunjuk ninja Penjaga tadi.

Sasuke kemudian masuk, dan menunggu di sebuah ruang tunggu. Suasana tampak lengang. Hanya terlihat sesekali ninja-ninja lewat di depannya, hanya melihatnya, lalu pergi lagi. Lima belas menit kemudian, turun seorang ninja cewek dari lantai 2 gedung itu. “Maaf, mau ketemu siapa ya?”, tanya ninja itu. Terdengar lebih ramah daripada ninja Penjaga di depan gerbang. “Ehm, saya mau bertemu Asuma Sarutobi”. Mengerti maksud dari Sasuke, ninja itu langsung mengajak Sasuke masuk ke sebuah ruangan. “Silakan, tunggu sebentar ya”. Sasuke hanya mengangguk.

Tak berapa lama kemudian, masuk seorang ninja Jonin. Tampaknya ia adalah seorang ninja yang kuat. Tubuhnya tinggi besar. Suaranya tegas. “Namamu Sasuke? Ada perlu apa kamu di desa ini?”. Tanya ninja Jonin itu. “Saya Sasuke, saya dari sebuah desa kecil yang jauh. Saya ingin belajar ilmu ninja di Desa ini. Saya ingin belajar kepada Hokage desa Konoha ini”. Setelah menjelaskan maksudnya dan mengisi beberapa formulir lagi, lalu ninja Jonin itu berkata: “Baik, besok datanglah ke sini lagi. Tuan Hokage akan menemuimu”. “Baik pak, terimakasih”. Setelah itu Sasuke pun keluar gedung itu.

Keesokan harinya, Sasuke datang lagi untuk menemui Tuan Hokage. Hari sangat cerah, secerah harapan Sasuke untuk bisa belajar di desa Konoha. Sama seperti kemarin, Sasuke dipersilakan masuk ke ruangan. Beberapa saat kemudian, masuk ninja Jonin yang kemarin ditemuinya. Namun kali ini ia tak sendiri, ada dua orang lagi. Salah satunya Tuan Hokage, dan satunya lagi seorang ninja wanita. Dari plat nama yang menempel di bajunya, ninja wanita itu bernama Tsunade. Kedua ninja ini pasti yang terkuat di desa Konoha ini. Ninja Jonin Asuma, yang terlihat sangat kuat, begitu hormat pada mereka berdua.

Sekilas Tuan Hokage tidak istimewa. Perawakannya tidak terlalu besar. Walaupun mungkin ia telah berusia 60-an, suaranya terdengar jelas dan tegas. Penuh wibawa, dan sangat hati-hati dalam pemilihan setiap kata2nya. Hanya bertatap muka saja, Sasuke sudah bisa merasakan chakra yang begitu kuat. Dan Tsunade, ia jauh lebih muda. Mungkin berumur 30-an. Terlihat ia juga begitu kuat. Pandangan matanya tajam. Tak berani Sasuke menatapnya lama2, karena seolah Tsunade akan bisa masuk ke dalam diri Sasuke melalui matanya. Chakranya juga terasa kuat, hampir sama dengan chakra Tuan Hokage.

Sasuke mulai menjelaskan maksudnya. Banyak pertanyaan dilontarkan ketiga ninja tersebut. Setelah 1 jam akhirnya selesai juga. “Kami tidak bisa mentolerir setiap penyusup yang masuk ke desa ini. Konoha begitu kuat, karena kami selalu waspada. Kami menginginkan setiap ninja yang dididik di sini akan menjadi kuat, dan kelak akan menjadi penerus di Konoha. Selamat datang di Konoha”. Kata penutup dari Tuan Hokage mengakhiri pertemuan itu. Sasuke kembali ke tempat tinggal sementaranya (selama di Konoha) dengan perasaan senang.

Dan kisah Sasuke di konoha-pun dimulai…

under: Konohagakure
Tags: , ,

Mantren Begins

Posted by: sabar02 | March 19, 2009 | No Comment |

Hari masih gelap. Suara gemericik air dan suara mesin pompa air yang berdengung di dalam sumur tiba2 mampir di telingaku. Setengah sadar, aku melirik ke jam weker di atas meja. Jam 5 pagi, pasti itu bapak kos lagi wudhu . Huh… Rasanya malas banget untuk bangun. Dengan menggeliat2 mirip cacing tanah, aku mulai mengumpulkan keping-keping kesadaranku. Setelah beberapa saat, aku kucek mataku. “S’mangat..!!!”. “Hari yang hebat telah dimulai!”. Begitu gumamku untuk membuatku semangat di pagi ini.

Hari itu, awal maret 2006, memang akan menjadi hari penentuan buat ribuan mahasiswa yang rata2 tingkat tiga di kampusku. Hari ini adalah hari pengumuman penentuan lokasi KKN. Dapat lokasi dimana ya? Tempatnya ntar kayak apa ya? Siapa aja yang kan jadi temen2ku nanti?…  dan seribu pertanyaan lainnya telah memenuhi pikiranku di pagi hari. Ups, au ah.. Let it flows. Sergahku untuk menghentikan semua pertanyaan itu.

Dingin masih tersisa, dan langsung menyusup masuk ke kamar kosku ketika kubuka pintu. Langsung saja, ku ambil air wudhu, kemudian solat subuh. Tak lupa di ujung solat aku berdo’a. “Ya Allah, kupasrahkan semua kepada-Mu. Dimanapun tempat KKN-ku nanti, dengan siapapun, dan bagaimanapun kondisinya yang Engkau pilihkan, semua pasti adalah pilihan terbaik untukku. Amiin..”. Kepasrahan memang hanya satu hal yang bisa dilakukan, karena memang setiap mahasiswa tidak boleh memili lokasi tempat KKNnya. Rasa ngeri dan was-was muncul setelah kutahu dari gosip bahwa salah satu lokasi KKN adalah di daerah Jawa Timur. Wuihh… jauh banget. Nggak kebayang gimana nanti jika aku dapat daerah sana. Kalau boleh milih sih, aku pilih daerah Minomartani saja, he3x.. lokasinya di dalam kota, jadi bisa enjoy, kalo bosen bisa jalan2, minjem film, atau pulang ke kos. Tapi kalau luar kota, ya daerah bantul aja deh..

Destiny

Matahari tlah menyengat kulit. Sekitar jam 9 pagi dengan jalan kaki aku menuju ke LPPM, kantor KKN kampus untuk melihat lokasi KKNku. Jogja benar2 panas, daerahnya yang tropis, ditambah lokasinya yang termasuk daerah rendah, hanya beberapa ratus meter dpl, membuat keringat berlomba2 memenuhi kulit. Limabelas menit kemudian sampailah aku di LPPM. Telah ada beberapa teman kampus yang nongkrong di sana. Sambil ngobrol ‘ngalor-ngidul’ kami menunggu pengumuman di tempel. Akhirnya setelah setengah jam menunggu, petugas penempel datang juga. Pengumuman pun ditempelkan satu per satu di papan. Berpuluh2 mahasiswa telah bergerombol, berebut melihat lokasi mereka layaknya ingin melihat pemenang undian mercedes saja. Huh.. malas aku untuk berdesak-desakan seperti itu. Sehingga, aku menunggu beberapa menit sampai agak longgar untuk bisa melihat lokasiku. Kuperhatikan sekeliling. Beberapa orang terlihat loncat-loncat kegirangan seperti menang lotere. Mereka mendapat lokasi seperti yang mereka inginkan atau karena teman satu genk mereka berada di lokasi yang sama. Beberapa di antaranya terlihat muram, muka mereka kusut seperti baju belum disetrika. Ada lagi yang tampak datar2 aja tanpa ekspresi, hanya memperhatikan sekeliling seperti diriku. Sambil berkipas-kipas. Aku penasaran, lalu aku baru sadar setelah melihat gerobak di sampingnya. Geblek.. Itu kan penjual minuman dan rokok yang sejak tadi nongkrong di sana, pantes aja dia gak ada ekspresi sama sekali.

Setelah agak longgar aku pun mendekat ke salah satu papan pengumuman. Dari ujung kiri ke kanan aku perhatikan baris demi baris. Pertama aku cari kata kunci Teknik Elektro, jurusanku. Selang beberapa saat aku dapat tulisan Teknik Elektro, tapi nama temanku di sebelah kiri. Dia dapat daerah Bantul. AKu cari2 lagi. Eits.. Wah kalau ini si Budi, dia dapet daerah Wonogiri. Wah jauh juga ya. Sampai satu papan habis aku pelototin tak ada namaku tertera di situ. Aku pun beralih ke papan lainnya, terlihat si Fuad sedang cari2 namanya juga. “Entuk lokasi ngendi, dab?” Tanyaku dalam logat jawa-jogja yang khas dengan embel2 ‘dab’. “Sik.. sik.. durung ketemu je”. Jawabnya. Akupun lalu ikutan nimbrung pelotot kiri-kanan. Searching-mode: ON.

“Walah.. Entuk Pacitan je!”. Si Fuad tiba2 teriak. Kontan aja aku menoleh. “Namaku ada gak, Ad?” Tanyaku. “Ada nih”. Langsung aja aku melompat, membuka mata lebar2. Seakan tak percaya. Jantungku mulai berdegup kencang. Dengan jelas tertulis di situ. Sabar Handayani …. Pacitan. “Mampus aku”. Begitu dalam hati. Kekhawatiranku terjadi juga, dapat daerah terjauh masa KKN kali ini. Pacitan, Jawa Timur. Berulang kali aku mengucek mata, mungkin aku salah lihat. Tapi tetap aja tak berubah. Lalu aku keluarkan pulpen. Aku mencoba menggaris lurus dari kiri - tempat namaku tertera- ke kanan terus, sampai kolom lokasi. Berharap akan mengenai baris di atasnya, yang tertulis Bantul. Yaahh.. beraa kalipun aku mengulangi hasilnya tetap sama, aku akan KKN di daerah Pacitan. Daerah yang belum pernah aku injak, yang bahkan belum pernah sekalipun aku melihatnya di peta. Sampai-sampai aku juga tidak pernah tahu kalau Pacitan itu letaknya ternyata di Timur-Selatan, atau timur laut Wonogiri.

Hufff….. Aku hirup napas dalam2. Mencoba mengakui realitas ini. “Ya Allah, pasti ini adalah pilihan terbaik untukku”. Mungkin ini adalah takdirku.

Lalu akupun pulang. Wajah muram terpajang sepanjang jalan sampai kos. Semangat yang coba aku kobarkan tadi pagi, tiba2 saja redup seperti lilin terkena badai. Sejuta pikiran menghantui kepalaku. “Stop. Pasti akan banyak pengalaman di tempat baru, bersama orang-orang baru”. Aku mencoba menghibur diri.

Kormasit

Hari-hari berikutnya pun aku lalui tak jauh2 dari masalah KKN. Mulai dari pembekalan-pembekalan, ngurus ini itu, dan kumpul bareng temen2 KKN lainnya. Tak ada yang membuatku bersemangat, saat pembekalan, jarang sekali aku mendengarkan. Sekenanya saja telingaku menangkap dosen2 Filsafat itu ngomong. Seperti biasa, aku dan teman2 TE selalu duduk di baris paling belakang. Entah karena anak2 jurusan kami pemalu, atau memang sombong. Layaknya preman, kami selalu mengisi baris paling belakang. Kalau di sekolah atau di kuliah, baris paling belakang identik dengan preman2 kampus, yang kerjaannya 3D. Datang, Duduk, Diam. Tapi akibatnya dapat di tebak, yaitu 2D. Dapet D, untuk nilai kuliahnya.

Masa akhir pembekalan di tutup dengan kumpul mahasiswa tiap-tiap unit. Beberapa hari yang lalu telah diumumkan unit masing-masing mahasiswa. Dalam tiap kabupaten terdapat beberapa unit, dan di daerah Pacitan terdapat 3 unit: Punung, Donorojo, dan Pringkuku. Aku masuk di unit Punung. Akupun kemudian masuk ke sebuah ruangan di LPPM. Sampai di sana telah ada banyak orang di dalam. Tidak ada yang kukenal seorangpun. Terlihat di antara mereka ada cewek cina, kalau aku menyebutnya ‘amoy’. Bukan rasis lho. Suara cewek2 begitu ribut, berisik layaknya ibuk2 sedang bergosip. Tampaknya mereka satu jurusan sehingga mereka saling kenal. Lalu akupun duduk di pojok belakang ruangan. Di sebuah meja, ada satu kursi kosong. Telah ada seorang duduk di sana.

“Permisi mas.. Boleh duduk sini?” Tanyaku pada orang itu. “O.. ya.. silakan.” Jawabnya dengan sopan. Aku tidak kenal orang itu. Perawakannya biasa saja. Gak gemuk, gak kurus juga. Rambutnya bergaya belah tengah mandarin. Terlihat sedikit lebih tua dariku. Tulang mukanya tampak jelas. Tapi jenggot, dan cambang yang gak terlalu lebat di mukanya membuatnya terlihat sedikit sangar. Lalu kami berkenalan. Namanya Ardiyas, anak Geografi angkatan 02. Dan ternyata dia kenal dengan salah seorang teman SMAku yang juga di geografi. Lalu ngobrol nalor-ngidul pun terjadi, sampai seorang cewek datang dan mengajak ngobrol Ardiyas. “Yas, aku dah muter-muter cari tempatnya tadi, ternyata di sini. Dah lama kamu?” Cewek itu bertanya pada Ardiyas. Tampaknya mereka sudah saling kenal. O.. pantesan, dari obrolan mereka aku tahu ternyata mereka satu jurusan juga. Lalu akupun dikenalkan padanya. “Titin..”. Aku pun membalas dengan dingin, “Sabar..” Lalu kami bertiga pun ngobrol bareng.

Obrolan kami lalu terhenti ketika seorang Bapak dosen masuk ruangan. Gak terlalu gemuk, tapi perutnya terlihat sedikit membuncit. Khas orang kaya. Tapi kelihatannya Bapak ini santai. “Selamat siang semuanya”. Ucap Bapak itu. “Selamat siang Pak..” Kami membalas.

“Perkenalkan, nama saya adalah Indar, dan saya akan menjadi pembimbing kalian selama kalian KKN. Saya adalah dosen di Fakultas Kedokteran Hewan” Begitu perkenalannya.

OO.. jadi dia adalah pembimbing KKN kami. Setelah berbicara panjang lebar, lalu dia mengeluarkan secarik kertas.

“Dalam satu unit Punung ini nanti akan dibagi-bagi dalam beberapa sub-unit. Daftarnya ada di sini”. Kata pak Indar sambil menunjukkan secarik kertas tadi.

“Tapi sebelum saya bacakan, kita memerlukan salah seorang sebagai koordinator unit ini”.

“Ayo, siapa yang bersedia silakan angkat tangan!”. Namun tak ada seorangpun yang angkat tangan. Aku hanya duduk diam di belakang, sedikit membungkuk agar tak terlihat. Itu sengaja aku lakukan, karena beberapa hari yang lalu aku diberitahu temanku agar jangan mau menjadi koordinator. Tugasnya berat. Makanya sedikitpun aku tak berniat menjadi koordinator itu.

“Voting saja pak!!”, teriak seorang mahasiswa. “Sebenarnya saya tidak mau voting, karena nantinya jadinya terpaksa, tapi ya gimana lagi. Nanti yang terpilih harus ikhlas menjalaninya”, kata Pak Indar.

Lalu satu per satu dari pojok depan, seorang diminta berdiri, lalu rekan yang lain angkat tangan untuk memilih. “Satu, Dua…”, pak Indar menghitung. “Ya, hanya dua”. Lalu begitu seterusnya, sampai pada giliran Ardiyas. Semua mata melotot padanya, lalu angkat tangan. Kali ini banyak yang angkat tangan. “Satu, dua, tiga, empat… Sebelas”. “Sebelas, banyak banget nih”. Begitu komentar pak Indar. “Berikutnya..”. Semua mata tertuju padaku. Aku hanya berdiri tanpa semangat sebentar. Pasang tampang sangar dengan mata tajam seolah macan ingin menerkam, dengan pesan ‘Jangan pilih aku’. Tampang cool, sangar, atau malah mungkin mirip preman pasar massih aku pasang ketika teman2 mulai mengangkat tangannya. Aku yakin pasti beberapa orang berpikiran menakutkan sekali mukaku. Memang itu yang aku inginkan. Tapi, waduh.. banyak banget yang angkat tangan. “Satu, dua,..” Jangan-jangan mengalahkan Ardiyas nih. “Sembilan”, pak Indar menyudahi hitungannya. Ahh.. lega. Cuma sembilan, jadi masih lebih banyak Ardiyas. Setelah aku tidak ada yang melebihi perolehan suara Ardiyas, sehingga dialah sang ‘kormanit’ kami.

Setelah itu terjadi pemilihan koordinator bidang. Mahasiswa2 KKN tergabung dalam bidang tertentu, aku karena dari fakultas Teknik tergabung dalam bidang Fisik. Koordinator bidang telah terpilih, kali ini melalui penunjukan pak Indar.

Setelah itu, pak Indar membacakan lokasi atau sub ubit masing-masing. Dan aku ternyata berada di sub unit Mantren. Mantren? Aneh sekali namanya, manten kali. Gumamku. Akhirnya, kami berkumpul sesuai sub unit kami. Sub unitku berada di pojokan. Terlihat 7 orang telah mengelilingi sebuah meja. 5 cewek, 2 cowok (termasuk aku). Lah, cuma dua cowoknya? Memang, cuma sub unit kami yang terdiri hanya dua cowoknya, sub unit lain, tiga sampai empat cowok dalam satu sub unit. Kami lalu memperkenalkan diri satu per satu. Lalu kami memilih koordinator sub unit atau kormasit. Sial, akhirnya aku yang terpilih, karena seorang cowok temanku telah menjadi koordinator bidang, mau gak mau aku yang jadi kormasit, karena malu dong kalau cewek yang jadi kormasit. Kuperhatikan satu-per-satu teman2ku. “Wah, ada amoynya”. Batinku ketika melihat seorang cewek keturunan termasuk dalam sub unitku yang namanya Yani. Pikiranku agak rasis, memang jujur, aku agak rasis terhadap orang cina, mungkin karena mereka terlihat ekslusif, sombong, dan kelihatan lebih baik daripada pribumi sepertiku. Satu cewek lagi adalah Titin yang tadi telah berkenalan ketika ngobrol bareng Ardiyas. Tubuhnya mungil seperti anak SMP aja, juga gak terlalu tinggi. Berambut sebahu, kulit agak putih, tapi matanya terlihat sayu, hampir seperti orang cina juga. Dandannya sedikit menor, dibanding cewek2 lainnya. Karena terlihat dia memakai bedak dan lipstik. Tiga cewek lainnya berjilbab. Salah seorang memakai kacamata. Agak gemuk, tapi pendek. Mungkin lebih pendek dari Titin. Dari gaya bicaranya, aku sudah memersepsikan kalau orang ini bakalan gak enak buat teman. Omongannya agak ‘nylekit’. Namanya Fitri. Dua orang lagi, mereka dari satu jurusan, Farmasi. Yang satu bertubuh tinggi, namun kurus. Satunya lagi, biasa aja. Gak gemuk, namun gak kurus juga. Gak terlalu banyak omong, namun sedikit aktif. Fokus pada kelompok kami. Namanya Laeli. Akhirnya kami semua ngobrol cas, cis, cus.. tukar2 nomer hp dan sebagainya. Mereka adalah teman2ku, yang akan bersama2 menjalani kehidupan selama dua bulan KKN. Kehidupan yang hebat, dan inilah awalnya, Mantren Begins…

under: Kisahku, Kisahmu, Kisah kita
Tags: , ,

Menggapai mimpi

Posted by: sabar02 | March 12, 2009 | No Comment |

Huffff…. Napas panjang harus ku hela. Jadi ingat waktu masih di TSI, kalau aku menghela napas seperti ini pasti pak Ari langsung berceloteh dengan gaya bijaknya, “Mr. Patient, apakah hidup ini terasa berat, sehingga kau menghela napas panjang2?”.

Seperempat abad sudah perjalanan hidupku, benar2 tak terasa, padahal sepertinya baru kemarin aku lulus SMA. Waktu terasa semakin menipis, sementara mimpi2 masih terasa jauh di awang2. Masih belum bisa aku membangun sebuah rumah ‘layak’ untuk ortuku, masih belum bisa aku mewujudkan mimpiku untuk membuktikan kepada seorang sahabatku bahwa aku bisa sesukses Bpk. Arwin Rasyid, mantan dirut Telkom itu. Bahkan kini, sampai sahabatku itu telah menutup mata untuk selama2nya, aku belum bisa mewujudkannya, walau sekedar bertatap muka langsung dengan mantan bankir itu. Mimpi mempunyai usaha studio musik memang telah menjadi nyata, namun ternyata tak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Tidak mudah seperti kelihatannya. Dan, 9 bulan waktu tersisa untuk mewujudkan mimpi bisa menikah tahun ini, terasa seperti tinggal 9 hari saja. Serta, sejuta mimpi lainnya yang masih terbengkalai di gudang hati dan pikiranku.

Huff…

“Ya Allah, berilah hamba kesabaran dan kekuatan.. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas seizin-Mu.”

under: Curhat
Tags:

Lost in Lawu (4) - tamat

Posted by: sabar02 | February 26, 2009 | No Comment |

Matahari mulai condong ke barat. Kami masih berada di lereng Lawu, di samping sebuah sungai. Rasa stres, frustasi, dan ketakutan yang mencekam terus menghinggapi kami. Teriakan2 minta tolong terdengar menusuk gendang telinga hingga menjalar ke hati. Membuat pilu orang yang mendengarnya.

Pengakuan Dosa

Ketika keadaan hampir tak terkendali, pak Ali meminta kami berkumpul. Dia adalah murobbi kami semua, sehingga kata2nya selalu kami dengarkan. Penampilannya yang tegas dan tegar, tampak tidak ada satu ketakutanpun di wajahnya, membuat kami sedikit tenang, walaupun aku tahu, pasti ia akan menjadi orang paling bertanggung jawab atas kami semua. Kami berkumpul mendengar wejangan pak Ali, dalam suasana sendu, kata2nya lebih merasuk batin kami. Tidak seperti ketika ngaji, yang kadang aku mengantuk jika mendengarkannya berceramah. Pelan2 ia berujar, menatap dalam mata kami satu per satu. “Teman.. teman..”. Ia menghela nafas sejenak, tampak beban berat ada di fikirannya. “Kita tersesat. Mungkin ini ‘teguran’ dari Allah atas kesombongan2 kita”. Kami hanya tertunduk mendengarkannya. “Kita terlalu sombong, menganggap remeh gunung Lawu ini. Alahhh.. masih di Indonesia aja koq”. Aku semakin merasa bersalah, karena itu kata2ku tadi siang. “Kita juga telah berbuat dzolim terhadap alam ini. Terhadap makhluk Allah yang lain. ‘Ini kan tandurane Gusti Allah’. Kita begitu rakus, merusak, memetik bunga edelweis tanpa perasaan”. Aku memegang tasku yang memang berisi penuh bunga edelweis. “Mengejar, dan melempari burung2″, lanjutnya. Rasanya semakin membuatku berdosa, yang melakukan itu semua hanya untuk sebuah ‘keisengan’ atau ‘kesenangan’ belaka. Sungguh sangat berdosa aku, menzolimi makhluk2 ini. “Mari kita luruskan niat, kita ke sini untuk bertadabur. Agar kita lebih dekat dengan Allah. Mengetahui keagungan ciptaan2nya, salah satunya gunung Lawu serta semua makhluk di dalamnya”. Sangat menyentuh sekali. “Mari kita beristighfar, memohon ampun atas kekhilafan kita. Kecerobohan kita. Dan atas dosa-dosa kita telah berbuat zolim”. Lalu, iapun memimpin doa, istighfar, memohon ampun pada Allah.

Setelah itu, kamipun melanjutkan perjalanan. Kini rasa tegar dan optimis dari pak Ali menular kepada kami. Hingga kami sampai ke sebuah lereng curam lagi. Ingin turun ke sungai, terlalu dalam. Ya Allah, ternyata cobaan ini belum berakhir. Tiba-tiba seseorang berteriak kencang. “Woi.. semuanya. Buang semua bunga edelweis kalian. Kita berdosa merampok bunga2 ini. Buang semuanya”. “Ya benar, buang semua bunganya, kembalikan semuanya”, teriak rekan yang lain. Tanpa pikir panjang, kami mengeluarkan bunga edelweis masing2. Karena fikiran kami sudah mentok. Kukeluarkan seikat edelweis yang aku petik tadi pagi. Termasuk edelweis merah, hasil rebutanku dengan Nordin. Pupus sudah harapanku untuk membawakan edelweis dari puncak Lawu. Dengan segenap tenaga, aku lemparkan edelweis itu ke semak2. Allahu Akbar.. Wuss.. Aku hanya terdiam memandangi edelweis yang terlempar kemudin tertelan rimbunnya tanaman paku. Teman2 melakukan hal serupa.

Survival

Langit masih cerah, namun telah berubah menjadi kekuning-kuningan. Matahari hampir sembunyi di sebelah barat. Kira2 hampir jam 5 sore. Karena kami ada di lereng gunung saja, sehingga matahari masih tampak gagah di ujung sana. Kalau di kampungku, jam segini pasti hanya cahaya kuning yang tersembur di langit. Kami memutar otak mencari cara untuk turun ke sungai, karena tak ada jalan lagi di depan. Entah siapa yang mendapatkan ide ini, beberapa orang menarik sebuah batang kayu yang sudah kering, sekitar 4 meter panjangnya. Lalu mereka mendorong kayu itu, tegak lurus ke dasar sungai, menjadikannya sebagai tiang untuk ‘prosotan’ turun ke sungai. Bergegas satu per satu kami turun. Memeluk kayu itu kemudian melorot ke dasar sungai. Budi melemparkan tasnya ke dasar sungai. Bukk.. Karena akan membebani, aku pun ikut2an. Gedebukk… Sial, salah sasaran, tasku mengenai bebatuan, terlihat beberapa barang bawaanku tercecer karena tas yang robek. Tapi, aku tidak peduli. Aku menuju kayu itu, mulai berpegangan dan melorot ke bawah. Sampai di dasar sungai, perih rasanya tangan dan dada serta perutku. Kayu kering yang tidak halus, serta terdaopat beberapa bekas cabang di kayunya menggores2 di badan. Kembali kami di dasar sungai, mengisi persediaan air minum. Tanpa peduli, air yang aku masukkan dalam jerigen adalah bekas kami injak2. Tanpa lama2 kami mencoba menaiki bukit di sebelah kiri sungai. Pemandangan dari sejak siang tadi, rimbunnya tanaman paku, setia menunggu di depan mata.

Dasar sungai terasa lembab, mungkin banyak pacet atau lintah di sungai seperti ini. Aku melihat2 ke air, takut kalau2 ada piranha. Karena rasanya aku serasa di sebuah sungai pedalaman amazon saja. Tak ada makanan yang tersisa, hanya beberapa gumpal gula jawa sebagai persediaan cadangan. Beberapa sachet marimas, dan air sungai ini. Kami harus benar2 survival dalam keadaan seperti ini. Aku berusaha mengerahkan pikiran untuk mengingat2 tentang cara survival seperti yang diajarkan waktu kelas 1 dulu, tapi sia2. Karena aku sering tidak memperhatikan ketika ekstra pramuka. Huruf morse, cara membuat api, membuat tanda SOS, dan sebagainya tiba2  lenyap dari otakku. Yang aku ingat hanya salah seorang teman cewek di pramuka dulu, yang sering aku lirak-lirik sama teman sebangkuku. Dasar geblek.

Matahari semakin turun, cahaya hanya terlihat di ujung2 bukit. Di dasar sungai terlihat seperti sudah waktu magrib. Kami merangkak-rangkak, membabat tanaman paku di lereng bukit, mencari jalan agar sampai ke atas bukit. Pak Ali telah memberi komando, mungkin kami akan bermalam di hutan ini, jadi satu2nya jalan adalah mencari tanah datar di atas bukit untuk bermalam. Duri-duri paku terus menggores2 di tangan. Kalo dilihat hampir mirip dengan pecandu narkoba yang sering menyayat tangannya sendiri untuk diminum. Di lereng bukit ini, kami berbaris meliak-liuk seperti ular. Dan pasti, Nordin sebagai kepala ularnya dan aku sebagai ekornya. Tidak terdengar lagi nyanyian2 kami seperti saat baru memasuki hutan perawan tadi pagi.

“Sol.. do.. iwak kebo.. re.. mi.. fa.. sol.. iwak tongkol..

mi..re.., mi..re.. mlebu warung nyolong tempe..”

Itulah soundtrack perjalanan kami tadi pagi. Aku mengajarkannya pada Budi dan Mulyono. Dan tertawa terbahak2 setiap kami menyanyikannya.

Matahri semakin turun, kami memutuskan solat ashar di tempat kami sekarang. Tak ada air, kami bertayamum dengan daun2 paku. Posisi kami tidak jelas. Tidak ada shaf seperti pada umumnya. Masih berbanjar, pak Ali mengimami di depan. Tak terlalu jelas suaranya. Ketika dia rukuk, di belakangnya baru rukuk, begitu seterusnya sampai aku paling belakang. Kalau dilihat seperti permainan merobohkan barisan kartu domino. Yang di depan ambruk, di belakangnya mengikuti. Sampai-sampai, di depan sudah salam, aku masih rukuk. Posisi sujud dan duduknya pun tak jelas, karena kami di lereng, tanah miring, sehingga sebisanya saja kami mengerjakannya. Kami juga tak menghadap kiblat, karena kalau kami memaksakannya bisa-bisa kami tersungkur ke dasar sungai waktu hendak sujud.

Keputus-asaan

Selesai salam, kami terus mencoba mencari ujung bukit ini, sampai matahari tenggelampun kami belum menemukan tanah datar untuk beristirahat. Mendung mulai menggantung di langit. Menambah pekat dan gelap malam ini. Kami mengeluarkan senter masing-masing. Baterai cadangan dipasang. Senterku yang mulai redup tidak aku ganti baterai, karena baterai cadanganku diminta seorang teman yang lupa membawa baterai cadangan. Rintik hujan mulai terasa. Kabut tebal perlahan-lahan meyelimuti kami. Rasanya lelah kaki ini untuk melangkah. Pegal seluruh tubuh ini. Dan perih tangan serta hati kami, menderita seperti ini. Pak Ali masih mencoba menggoyang-goyangkan handphonenya, mencoba mencari sinyal, walaupun hasilnya nihil. Mata ini menerawang ke angkasa, mencari-cari siapa tahu ada sebuah pesawat yang melintas. Telinga dibuka lebar2, mencoba mencari-cari suara seseorang, atau pak penebang kayu yang siapa tahu masih ada di sekitar sini.

Beberapa lama kami berjalan, gerimis semakin deras dan akhirnya menjadi hujan. Mantel hujan aku keluarkan dan aku pakai. Berjalan dan terus berjalan, hanya itu yang kami bisa. Perut mulai terasa ‘keroncongan’. Tenaga rasanya sudah tak ada lagi. Habis energi kami, habis asa kami untuk bisa pulang ke rumah dengan selamat. Akhirnya kami sampai di tanah agak datar. Pak Ali memerintahkan untuk beristirahat sejenak. Masih dalam berbaris seperti ular, kami berhitung satu per satu dari depan. Satu.. Dua.. sampai aku yang terakhir. “Enam Belas..”. Ahh, sedikit lega, kami masih lengkap. Tidak bertambah juga. Nggak kebayang kalau tiba-tiba aku mengucap:” Tujuh Belas..”. Lah, siapa penyusup yang masuk barisan? Merinding jadinya.

Lalu kami duduk di posisi masing2. Dengan menyandarkan dagu ke lutut, bersedekap menahan dingin aku terduduk diam. Suara air hujan, daun2 yang basah, dan suara2 binatang hutan menjadi penghias. Kami telah putus asa. Musnah, dan pikiran kosong. Tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Habislah riwayat kami. Nama-nama dan foto2 kami, mungkin akan terpampang di Solopos dan media2 besok lusa. Keesokannya, sejumlah tim SAR dan anjing pelacak akan mencari kami. Sesak dada ini membayangkannya.

Keyakinan

Hampir setengah jam kami terdiam di tempat kami berada. Hujan belum juga reda. Keutus-asaan menyelimuti kami. Tampaknya pak Ali juga sudah putus asa dengan HPnya, yang kini sudah mati total tak bernyawa lagi. Melihat kami tertunduk lesu. Dia langsung berdiri dari duduknya, menyuruh kami merapat. Dengan nada lirih dan sayup-sayup, ia kembali menyuntikkan kata2 penyemangat buat kami. “Teman-teman, kita mungkin tersesat. Tapi kita tidak boleh putus asa. Karena apa?” Kami hanya termenung, seperti korban kebakaran merenungi harta bendanya yang telah hangus. “Karena di sini. Di sini..” Katanya menegaskan, sambil menepuk dadanya. “Kita selalu yakin, yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah selalu ada. Selalu mendengar doa-doa kita”. Terdengar mantap, mencoba membangun kembali asa kami. “Ingatlah bahwa Allah tidak akan menguji hamba-hambaNya melebihi daripada kemampuan hamba itu sendiri”. “Tidak ada sesuatupun yang terjadi di muka bumi ini diluar kuasaNya”. Kali ini lebih bersemangat. “Bahwasanya tidak ada satu daunpun di seluruh hutan ini yang jatuh ke tanah tanpa seizinNya”. Mataku menatap dedaunan di sekitar kami. “Semua, telah tertulis di Lauhul Mahfudz”. Kini terdengar seperti saat orasi ketika berdemo menentang Israel. “Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah di sini. Allah memberikan kita ujian berat ini, karena Allah Maha Tahu kita kuat. Kita pasti bisa melewati ini”. Kata-katanya benar-benar membakar semangat kami. Membuat mendidih darah ini. Serasa ada energi hebat mengalir di tubuh yang lemah, karena dari kemarin tidak makan nasi. Hingga membuat si Arif berteriak dengan kencang, tak kalah dari pak Ali ia mencoba memberi semangat bagi kami. Namun dengan konsep yang berbeda. “Gah.. pokoke aku wegah turu ning kene. Aku pengin turu ning ngomah. Turu ning kasur”. Teriaknya dengan kencang dalam bahasa jawa, yang artinya ia tak mau tidur di hutan, ingin tidur di kasur, di rumah. Sedikit kocak, namun membuat kami tambah semangat. Kontan, teman2 langsung menjawab tak kalah keras. “Ya, aku juga. Pengin tidur di kasur spring bed”. Arif lalu menambahkan: ” Aku pengin makan masakan ibuk”. Rahman lalu menjawab, “Aku pengin makan soto di tempat mbok jus”. Lalu tanpa diperintah, semua berteriak meneriakkan keinginan2 konyol mereka tentang makanan. Aku juga tak kalah. “Aku oengin makan di warungnya simbah, samping GOR”. Salah satu tempat makan favoritku. EMB pokoke, Enak, Murah, Bergizi.

Akhirnya, dengan sambil tertawa2 kecil demi mendengar kekonyolan motivasi kami, kami bergegas untuk berjalan lagi. Tak peduli betapa letihnya kami, tak peduli akan ketemu jalan keluar atau tidak, tak peduli betapa laparnya perut ini, atau mungkin justru karena perut yang lapar ini, kami jadi bersemangat lagi. Kami serasa mendapatkan ‘baterai cadangan’ pada energi kami. Melangkah menembus malam, hujan, dan lebatnya hutan. Hanya beberapa puluh meter kemudian, beberapa orang teriak2 di depan. Tapi bukan teriakan soal makan lagi. “Alhamdulillah… Subhanallah.. Allahu Akbar”. Mereka teriak2 memuji Allah. Aku langsung lari ke depan. Mencoba mencari tahu. Kontan, tergetar hati ini. Tidak bisa untuk tidak memuji asma Allah. Terlihat tanah datar di depan, agak lapang tanpa tanaman paku di sana-sini. Sebuah ‘jalan’ terbentang di depan mata. Harapan kami membumbung setinggi langit, padahal beberapa menit yang lalu, beberapa meter dari sini tadi, kami telah habis harapan, putus asa. Kami menemukan sebuah ‘jalan’.

Way Home

‘Jalan’ yang kami temukan memang bukan jalan dalam arti sebenarnya, bukan jalan seperti cemoro sewu atau cemoro kandang. Kami juga tidak tahu akan kemana jalan itu berakhir. Jalan itu hanyalah tanah licin, seperti selokan namun dangkal, dengan rerumputan tumbuh di samping2nya. Memanjang jauh menuruni bukit, tidak kelihatan dimana ujungnya. Tidak tahu jalan apakah itu, namun kata si Rahman, itu adalah jalan para penebang liar, yang menyeret kayu hasil tebangannya untuk dibawa turun sehingga sampai di bawah sana. Terlepas benar atau tidak, yang penting kami telah menemukan kembali harapan kami. Jalan itu tampak masih licin, artinya masih sering dilewati orang, yang pasti menuju ke sebuah perkampungan penduduk. Dengan wajah ceria kami menyusuri jalan itu. Langit kini mulai cerah secerah hati kami, hujan tlah usai, yang tersisa tanah licin dan dedaunan yang basah. Dingin tak begitu terasa lagi. Lampu2 senter banyak yang mulai mati, sebagian karena habis baterai, sebagian karena mati kehujanan tadi. Sehingga, dua-tiga orang hanya memakai satu senter. Sambil bercerita2 seperti waktu berangkat kemarin malam, kami menuruni jalan berliku itu. Setiap kurang lebih 15 menit, kami berhitung dari depan ke belakang, mengecek kelengkapan tim. “Woi.. jalan bercabang”. Tiba2 kami berhenti di sebuah percabangan jalan. Kami bermusyawarah sejenak. Seperti ketika di persimpangan jalan sebelum tersesat tadi pagi. “OK. Kita sama2 tidak tahu kemana arah jalan ini. Kita telah putuskan, kita akan ambil jalur ke kanan setiap ada persimpangan. Bismillahirrahmannirrahiim”. Pak Ali memberi komando, tanpa ada satu orang pun yang mencoba mendebat. Kami melanjutkan perjalanan, dan mengambil jalan ke kanan setiap menjumpai persimpangan. Saat itu, jam sembilan malam. Sudah 13 jam kami berjalan sejak turun dari puncak pukul 8 tadi pagi. Padahal kalau melalui cemoro sewu normalnya hanya sekitar 3 jam, atau 2 jam jika berjalan lebih cepat.

Candi Cetho

Langit semakin cerah, walau bukan bulan purnama, bulan bersinar terang. Sehingga atk perlu pakai senterpun jalan tetap kelihatan. Milyaran bintang bertengger di angkasa sana. Tak ada mendung lagi yang terlihat. Sesekali udara dingin menghembus ke wajah. Sudah lama kami berjalan, hanya berbekal air hujan di jerigen, kami terus menyusuri jalan, hingga akhirnya kami melihat di kejauhan. Sebuah tempat dengan banyak lampu2 di bukit depan. Terlihat kontras, karena gelap di sekitar tempat itu. Lampu2 rumah penduduk juga mulai terlihat di bawah. Benar2 lega hati ini, kami telah benar2 keluar dari hutan dalam kedaan selamat. Tak ada lagi pikiran negatif di kepalaku.

“Ya.. tak salah lagi, itu cetho.. Candi Cetho”. Mulyono mengungkapkan keyakinannya teentang tempat penuh lampu di kejauhan itu. “O.. iya, bener itu cetho..”. Rahman mengamini. Budi pun tak ketinggalan, membenarkan tempat itu adalah candi cetho. Tempat yang kami tuju dari puncak, jalan yang ingin kami lalui. Aku hanya diam saja, karena aku belum pernah ke sana seperti mereka. Kini aku, Budi, Mulyono, dan Rahman berada di barisan terdepan. Kami memimpin rombongan. Jalan yang tadi menuntun kami tiba2 sudah menghilang. Kami berada di kebun2 sayuran milik penduduk. Berjalan di antara sayur-sayuran, melompati pematang kebun, dan kadang tak sengaja menginjak sayuran itu. Maaf ya pak, buk. Begitu batinku. Kami hanya menuju ke cahaya terang di depan, karena setahu kami di sanalah pintu ‘labirin’ ini berakhir. Rombongan tiba2 terpecah2, menjadi dua, atau tiga orang. Jaraknya juga jauh2, gak akan terdengar jika berhitung. Lalu, kami berempat berhenti sejenak, sebuah jalan lebar, rata, dan terawat di depan kami. Bukan aspal memang, namun cukup bagus, batu2 dan pasir menjadi konstruksinya. Ke arah kanan, jalan itu menuju ke candi cetho, ke kiri menuju perkampungan di bawah sana. Lalu kamipun memutuskan untuk menuju perkampungan, bukan candi cetho, tujuan awal kami. Beberapa saat kemudian, lewat sebuah mobil menuju candi cetho. Semakin yakin kami telah selamat. Jauh kami berjalan menyusuri jalan rata tadi. Kaki serasa keriting. Dan akhirnya sampailah di sebuah kampung. Masih terlihat beberapa warga yang begadang. Kamipun ditanya2, dan balik bertanya2, menceritakan bahwa kami tersesat sepanjang hari ini. Aku langsung menuju emperan sebuah rumah, membanting tas, membaringkan tubuh yang sudah tak karuan rasanya, sambil menanti teman2 yang belum sampai. Terlelap sejenak, terdengar riuh di sekitarku. Rupanya semua orang telah sampai, berkumpul di warung sebelah memesan kopi panas. Aku pun lalu menyusul mereka. Sambil menikmati kopi dan makanan ringan, terdengar pak Ali mengobrol di depan, mencari sebuah mobil yang bisa mengantarkan kami pulang. Lalu akupun tertidur lagi, karena badan tak kuat lagi. Saat itu sekitar jam 11 malam. Beberapa saat kemudian, aku dibangunkan, dengan setengah sadar aku mengangkat ranselku, lalu melompat ke sebuah mobil pick-up. Rasanya baru semenit mobil berjalan, dan aku memejamkan mata, kami telah sampai di masjid Assalaam. Alhamdulillah…

Esoknya, kami berjanji akan makan soto n es jus di samping SMA..

“Sol.. do.. iwak kebo.. re.. mi.. fa.. sol.. iwak tongkol..

mi..re.., mi..re.. mlebu warung nyolong tempe..”   :-D
-tamat-

dedicated to Assalaam Team

under: Relaxation
Tags: ,

Lost in Lawu (3)

Posted by: sabar02 | February 20, 2009 | No Comment |

Matahari dah mulai tinggi, hampir jam 10 pagi. Terasa hangat di badan, setelah semalaman kami bertarung menahan dinginnya udara gunung. Langit terlihat cerah, bukan karena tak ada awan, tapi karena awan-awan itu berada lebih rendah di bawah kami. Puas kami menikmati suasana puncak ini. Jeprat-jepret foto dari pagi tak henti-henti, sampai baterai atau roll negatifnya habis. “OK. Kita akan turun, supaya tidak kemalaman sampai di bawah”. Pak Ali memberi komando kepada kami. Rencananya kami akan turun melalui jalur Candi Cetho, dan itu adalah jalur baru. Beberapa orang pernah lewat sana. Kami tidak memilih turun lewat Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu, karena kami ingin membawa pulang bunga Edelweis, sang lambang Cinta abadi itu. Kalo lewat dua pos yang biasa itu, akan ada pemeriksaan, sehingga ujung2nya dapat ditebak, kami harus mengembalikan lagi bunga2 yang kami petik ke puncak lagi. Huh.. ogah deh. Kami lalu bersiap untuk turun. Aku, Mulyono, Budi, dan Rahman berdiskusi sejenak. Melihat ke arah mana jalur menuju Candi Cetho. “Ke arah itu kayaknya..”, Mulyono memberikan pendapatnya ketika melihat sebuah papan penunjuk. Kami lalu mendekati papan itu. “Koq, tulisannya ke Jawa Timur?” Begitu tanyaku, karena memang yang aku tahu Candi Cetho termasuk Jawa Tengah. “Wah berati yang ke kiri itu”. Kami pun sepakat arah Candi Cetho adalah ke arah barat agak selatan, dimana terdapat sebuah menara pemancar di ujung bukit di seberang sana.

What a Beautiful Country

Rombongan pun mulai bergegas meninggalkan puncak Lawu. SLayer orange sebagai identitas kami, melingkar di leher masing2. Aku berada di barisan depan. Menuju ke sebuah bukit yang ada menaranya. Angin sejuk sesekali menerpa wajahku, terasa damai hati ini, di sekeliling tidak ada yang aku lihat lagi selain keindahan. Bunga2, pohon2 perdu, siulan burung, birunya langit, awan2 putih di bawah kami, serta hutan2 di bawah sana yang menghijau kemudian membiru di kejauhan adalah pemandangan sepanjang jalan. oh.. betapa indah negeriku ini. Yang mungkin tidak akan ada duanya.

Setelah berjalan sekitar 10 menit, menuruni jalan setapak, kami sampai di sebuah tanah datar. Teriakan, canda dan tawa teman2 masih terdengar di belakang. Kami sampai di sebuah padang rumput. Bukan rumput biasa. Berwarna putih kecoklat2an, daun2nya panjang melengkung dan lebat. Tumbuh radial memutar sehingga tampak seperti sebuah sofa bulat yang empuk. Jumlahnya banyak sekali. Si Dion yang tak sabar pun langsung melompat ke atas rumput itu, berguling-guling layaknya anak kecil. Aku dan mulyono pun tak mau kalah, kulihat ada sofa rumput yang tebal, langsung aja aku melompat. Berguling-guling di atasnya. Budi pun tak mau ketinggalan. Kuhela nafas, menikmati indahnya alam ini. Ahhh.. What a beautiful country..

Persimpangan Jalan

Di sini kami berhenti sejenak. Di sebelah barat ada sebuah bukit, terdapat sebuah menara di ujungnya. Terdapat dua jalan dari sini. Satu ke kanan, ke utara, terlihat menanjak ke punggung bukit itu. Sedangkan satunya ke kiri, ke selatan, menurun, menuju ke sebuah hutan. Silang pendapat terjadi, dan akhirnya kami memutuskan mengambil jalan ke kiri.

Kami terus menuruni lereng gunung ini, setapak demi setapak. Canda dan tawa selalu menghiasi sepanjang jalan. Kami lalu sampai di sebuah lereng, di sana penuh dengan pohon tumbang, menghitam menjadi arang. Rupanya bekas hutan terbakar. Miris hatiku melihatnya. Hanya tumbuhan2 baru sekitar 30 cm yang ada di sela-sela arang pohon. Kami terus berjalan-dan berjalan melintasi hutan bekas terbakar ini.

Hutan Perawan

Matahari hampir di atas kepala. Samar2 mendung mulai terlihat di atas, rupanya kami telah turun cukup jauh sehingga telah berada di bawah awan. Tanaman edelweis mulai tidak terlihat. Berganti dengan tanaman berkayu, seperti cemara, dan tanaman lain yang aku tidak kenal. Kami sampai di depan ‘hutan perawan’. Kukatakan begitu, karena tidak terlihat ada jalan bekas kaki manusia di depan. Pohon2nya terlihat lebat membentuk sebuah kanopi, sehingga sinar matahari hanya samar2 menembus sampai ke tanah di bawahnya. Kami berunding sejenak. “Teman-teman, tampaknya kita sudah salah ambil jalan waktu tadi di dekat menara”, pak Ali berujar kepada kami. Deg.. Aku tersentak kaget. Namun karena tidak sendirian, kami masih enjoy. “Tidak mungkin kita kembali ke puncak. Karena perbekalan sudah mulai menipis. Satu-satunya jalan, kita harus terus turun. Kita akan menyusuri sungai ini”, lanjutnya. Hutan ini memang lebat, terdapat sebuah sungai yang dalam sekali di sampingnya, sekitar 20 meter. Kamipun melanjutkan perjalanan. Air di ‘jerigen’ yang kubawa tinggal setengah, aku harus menghematnya. Masih sambil bercanda aku berada di barisan belakang rombongan. “Wah, kayaknya besok kita bakal jadi headline di Solopos nih. 16 orang pendaki dikabarkan hilang di lereng Lawu. Menurut pos penjaga, mereka berangkat dari pintu masuk Cemoro Sewu hari Sabtu malam.” Begitu kelakarku, tanpa pikir panjang dan perasaan takut hal itu akan benar2 terjadi. “Mereka semua diidentifikasi memakai slayer berwarna orange saat berangkat”, timpal temanku menambahi. “Woi.. ayo foto2, biar bisa jadi bukti nanti.. wekekeke..”, temanku yang lain malah mengajak berfoto. “Tenang aja, kita masih di Indonesia koq. Hahaha..”, teman lain menambahi. Sombong sekali. “Tapi, katanya di lereng Lawu ini masih banyak macan lho..” , salah seorang mencoba menakuti. Sambil beristirahat sejenak, kami bercanda.

Beberapa menit kemudian kami melanjutkan perjalanan. Walau agak ngeri, tapi hutan ini sangat indah, dan alami. Beberapa langkah kami berjalan, tampak bunga berwarna merah muda, dan putih menempel di pohon2. Indah sekali, itu adalah anggrek liar yang tumbuh menempel di pohon2 hutan secara alami. Karena tertarik, Mulyono menagmbil sebuah bunga beserta akar2nya yang menempel di sebuah pohon. Bles.. Kakiku tiba2 seperti terbenam ke dalam tanah. Mata kakiku sampai tidak terlihat. Terkejut aku menginjak tanah hutan ini. Penuh humus dan lumut, tanahnya gembur sekali sehingga ketika diinjak, kaki langsung ambles semata kaki. Rasa aneh menyelimutiku ketika melihat pohon2 di sekeliling. Ngeri rasanya. Kulit2 pohonnya juga berlapis humus, pohonnya meliak-liuk, terasa mistis, seperti tongkat mak lampir saja. Ketika kupegang pohon itu, kulit kayunya terkelupas hingga tampak kayu dibaliknya. Akupun kemudian mengambil kayu kering sebagai tongkat untuk berjalan.

Jalan begitu curam di depan, jurang dalam di kanan kami. Karena tidak bisa terus maju, kami menyeberang jurang sungai selebar 5 meter itu dengan melintasi sebuah jembatan dari pohon yang tumbang melintas di atas sungai. Kami terus mencoba menyusuri sungai ini. Tumbuhan paku dimana-mana. Berulang kali duri2 pohonnya mengenaiku. Perih sekali. Nordin yang berada di depan menyabetkan parangnya berulangkali untuk membuka jalan. Terlihat ada lereng curam lagi di depan, lalu kami turun menuju sungai. Membelah tanaman2 paku. Dengan sebuah tali pramuka, kami menuruni sebuah jurang. Hingga kami sampai di dasar sungai. Kamipun memanfaatkannya untuk mengisi air. Jerigen diisi penuh, ditambah marimas. Enak sekali. Gak peduli dengan masalah higienis. Kami istirahat sejenak, dan solat duhur. Kami lalu berjalan di sungai yang airnya tak banyak itu dengan sesekali melompat dari batu ke batu. Kami tercengang melihat jurang di depan. Sungai tiba2 menurun curam di depan, sehingga kalau dilihat dari bawah kami berada di ujung atas sebuah air terjun. Karena tidak bisa jalan ke depan, kami kembali naik ke lereng di sebelah kiri. Menyusuri sungai dari sebelah kiri. Melewati hutan, menembus semak2 berduri.

Fatamorgana

Tidak tampak lagi wajah ceria di muka kami. Teriakan, canda, dan tawa yang sejak dari puncak kami keluarkan, tiba2 menjadi sunyi. Tenggorokan serasa kering, dan lidah terasa beku. Hanya jantung yang dari tadi selalu berdegup kencang, muka2 memelas. Terlihat seperti orang kampung yang baru pertama kali sampai di kota. Kebingungan dan tampak takut di wajah kami. Tapi kami berusaha tidak menyerah, saling meyakinkan satu sama lain.

“Woi.. ada pohon gandum, kita sampai di kebun penduduk”, teriak seorang temanku. Rasa gembira dan suka cita menghampiri kami. Akupun cepat2 berlari ke depan untuk segera melihatnya. Tapi, tiba2 asa itu hilang. Padam seperti lilin tertiup angin. Ternyata tanaman gandum yang dilihat temanku tadi tak lebih hanya beberapa gelintir gandum liar di tengah hutan. Sebuah fatamorgana. Walau begitu, kami tak menyerah, terus mencari jalan keluar dari hutan ini. Untuk kesekian kalinya, kami harus menyeberang ke sisi kanan sungai, karena jalan tak mungkin untuk dilalui. Tanaman paku berduri tetap menjadi penghias perjalanan kami, mengiris kulit setiap kali menyentuh dahannya. Tak ada lagi edelweis putih, merah yang selalu senyum di puncak tadi. Pohon2 setinggi kepala dan bahu di sekeliling kami. Di sebelah kiri, hanya ada sungai ‘jelek’, yang dari puncak kami ikuti. Di sebelah kanan, jurang sangat dalam, sampai tidak kelihatan dasarnya. Kami berada seperti di sebuah pulau selebar 3 meter namun memanjang sampai bawah jauh sekali.

Nordin dan pak Ali tetap berada di barisan terdepan, membabat habis paku2 itu membuka ruang. Aku paling belakang sebagai sweeper. Tiba2 saja terdengar jeritan histeris di depan. “Pak.. toloooongggg pak.., Pak tukang kayu… toloooonggg…  lonngggg… looonggg…”. Tiba-tiba saja Nordin berteriak, menjerit seperti serigala di bulan purnama. Teriakannya, mengema dimana2, dipantulkan dinding2 lereng Lawu ini. Semakin histeris dan mencekam, karena teman2 lain mengikutinya, karena katanya Nordin mendengar suara orang memotong kayu. Merinding aku mendengar teriakan mereka, tidak ada yang menjawab kecuali gema dari teriakan mereka sendiri. Saat itu, sejenak aku merasa stres, merenungi apakah hidupku akan berakhir di sini? Ya Allah, masih banyak tanggung jawab yang harus kupikul, masih banyak hutang yang belum terbayar, dan masih banyak mimpi yang harus hamba wujudkan. Berilah hamba kesempatan ya Allah. Bayangan orang-orang yang kusayangi muncul satu per satu. Melintas, seperti sebuah slide-show. Tampak senyum2 mereka, canda2 mereka, dan semua tentang mereka. Saat itu, baru aku merasa betapa hidup ini sungguh berharga untuk disia-siakan. Aku serasa di ujung maut. Harapanku untuk bisa selamat tinggal sedikit, seperti embun di pucuk2 daun paku, yang sebentar lagi menguap terkena panas matahari.

under: Relaxation
Tags: ,

Kata-kata kasar

Posted by: sabar02 | February 15, 2009 | No Comment |

—diambil dari ‘dunia maya’, cerita seorang ibu tentang arti keluarga—

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan
saya” adalah reaksi saya. Ia berkata, “Maafkan saya juga;  Saya  tidak
melihat Anda.”  Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat
sopan.
Akhirnya  kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.  Namun cerita
lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita  memperlakukan orang-orang
yang kita kasihi, tua dan muda.

Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki
saya
berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya  berbalik, hampir saja
saya
membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya  dengan  marah. Ia pergi, hati
kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa  kasarnya  kata-kata saya
kepadanya.  Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan
berbicara padaku, “Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau
kenal,
etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi,
sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai
dapur,  engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu.”
“Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda,
kuning
dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak  menggagalkan kejutan
yang
akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah
saat
itu.”

Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.  Saya
pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya,
“Bangun, nak, bangun,” kataku.  ”Apakah bunga-bunga ini engkau petik
untukku?” Ia tersenyum, ” Aku  menemukannya jatuh dari pohon. ”  ”Aku
mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu.  Aku tahu Ibu
akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.”  Aku berkata,  ”Anakku,
Ibu
sangat menyesal karena telah kasar  padamu; Ibu seharusnya tidak
membentakmu
seperti tadi.”

Si kecilku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap  mencintaimu.” Aku
pun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku  benar-benar
menyukai
bunga-bunga ini, apalagi yang biru.”  Apakah anda menyadari bahwa jika
kita
mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan
mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang
kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.  Mari
kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita
ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang
bijaksana, bukan?  Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di
atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?

Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.  FAMILY = (F)ATHER (A)ND
(M)OTHER,
(I), (L)OVE, (Y)OU

under: Relaxation
Tags: ,

Lost in Lawu (2)

Posted by: sabar02 | February 11, 2009 | No Comment |

Langkah semakin berat ketika kami meninggalkan pos 2. Napas tersengal-sengal, mengeluarkan uap air seperti kerbau di pagi hari. Jalan kini lebih berat, aku berjalan di barisan belakang rombongan. Jalan berliku dan miring yang kini ku perkirakan kemiringannya hampir 70 derajat membuatku harus sering2 berhenti beristirahat. Hidung yang ‘meler’ karena kedinginan, membuatku seperti orang yang sedang terisak-isak menangis, terdengar haru dan sedih seperti seorang ibu2 habis menyaksikan sinetron ratapan anak tiri. Semakin naik, dan naik, tetapi rasanya belum terlihat juga tanda-tanda akan sampai puncak. Aku tidak tahu lagi apakah sudah lewat pos 3 atau belum, hanya saja tadi kami baru saja melewati ‘Watu Jago’ yang aku sendiri heran kenapa dinamakan demikian karena setelah aku amati, tidak mirip sama sekali dengan ayam jago, juga tidak berkokok. Hanya bongkahan batu besar di pinggir jalan, tinggi, dan kokoh. “Ya Allah, beri mereka semua kesembuhan. Kayak gini koq dibilang ayam jago. Hawa dingin, mungkin sudah membuat orang2 ini meracau”, begitu batinku.

(fotonya cuma ngopi dari paman Google, foto original ilang :-) )

Pasar Setan

“Bud puncak masih jauh ya?”. Tanyaku pada Budi, karena dia dah pernah mendaki Lawu sebelumnya. “Masih, bar. Kita masih harus lewat beberapa pos, trus Sendang Drajad, lalu pasar setan, dari situ ntar dah deket”. Deg.. deg.. sir.. Pasar setan? bulu kudukku langsung berdiri. Gak berani melihat ke sekeliling yang gelap. Hanya tanah tang terkena lampu senter di depanku yang aku perhatikan. Sesekali ngajak ngobrol teman-teman untuk menghilangkan pikiran2 negatif, mungkin terlalu banyak nonton acara2 mistis nih, jadi parno duluan. Pasar Diyeng atau Pasar Setan, berupa prasasti batu yang berblok-blok, katanya pasar ini hanya dapat dilihat secara gaib. Pasar Diyeng akan memberikan berkah bagi para pejiarah yang percaya. Bila berada ditempat ini kemudian secara tiba-tiba kita mendengar suara “mau beli apa dik?” maka segeralah membuang uang terserah dalam jumlah berapapun, lalu petiklah daun atau rumput seolah-olah kita berbelanja, maka sekonyong-konyong kita akan memperoleh kembalian uang dalam jumlah yang sangat banyak. Pasar Diyeng/Pasar Setan ini terletak di dekat Hargo Dalem. Huh.. ngeri juga. Untung waktu itu gak ada yang aneh2.

Meteor Garden

Jalan semakin terjal, tas ransel di pundak terasa semakin berat. Lutut serasa mau copot. Menoleh ke belakang yang terlihat hanya jurang. Melihat sekeliling, hanya tanaman2 perdu, edelweis, serta ‘bajakannya’ yang disebut dengan wedusan yang terlihat. Karena kepayahan, aku mencoba untuk istirahat, sambil berpegangan pada tanaman di pinggir jalan aku bersandar pada tanah miring di sampingku. Waktu kubalikkan badan dan bersandar di tanah miring itu, mataku terbelalak menyaksikan pemandangan di depan mataku. “Subhanallah.. Begitu indah Karya-Mu ini”. Mataku tidak berkedip-kedip menyaksikan pemandangan itu. Saat membalikkan badan, terpampang luas di depan mataku. Langit sangat cerah, tidak ada awan sedikit pun. Jutaan bahkan mungkin milyaran bintang gemintang memenuhi angkasa. Jauh lebih banyak dibandingkan jika dilihat dari kampungku. Lintang ‘panjerino’ yang berpijar sepanjang malam, lintang ‘gubuk penceng’, lintang ‘wuloh’, dan lintang2 lain terlihat jelas. Seperti di atas kepalaku saja. Bukan hanya sampai di situ. Berkali-kali terlihat meteor2 berjatuhan, layaknya kembang api tahun baru. Seperti dalam serial Meteor Garden di televisi saja. Walau konon meteor jatuh itu ceritanya adalah batu2 yang dilempar kepada setan2 yang mencuri berita dari langit, tetap saja sangat indah untuk dilihat. Subhanallah.., tak henti2nya bibirku memuji-Nya. Ingin rasanya aku terus menikmatinya, tapi perjalanan masih panjang karena tujuan kami adalah “Hargo Dumilah”.

Untaian Berlian

Waktu hampir pagi, kira-kira hampir jam empat. Kami masih berada di lereng curam. Rombongan terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok kecil. Aku berada di rombongan paling belakang. Tak terlihat lagi Noordin di depan, mungkin dia tlah sampai di Sendang Drajat, tujuan kami untuk beristirahat. Atau dah sampai puncak? mungkin saja karena kalau melihat di mendaki sepertinya dia tak pernah kelihatan lelah. Untuk kesekian kalinya, aku beristirahat, menyandarkan tubuh kurus ini ke tanah dingin di sampingku. Mataku kembali terbelalak melihat pemandangan di depan mata. Bukan lagi karena bintang gemintang. kilauan cahaya terang dan redup terkumpul di depan, laksana ribuan berlian yang terhampat di depan mata. Saat itu rasanya seperti pemburu harta karun yang telah menemukan harta kerajaan di sebuah goa yang gelap. Berkilau-kilau indah di depan mata. Cahaya-cahaya indah laksana berlian tadi adalah cahaya dari lampu2 kota dan desa di sekitar Lawu. Dilihat dari atas, cahaya2 itu seolah untaian berlian terindah yang pernah kulihat. Ada sepasang berlian memanjang, di ujungnya terdapat puluhan berlian besar2. Dan itu adalah lampu2 dari bandara adi soemarmo solo. Bibirku tak henti2nya lagi2 memuji kebesaran-Nya. Subhanallah…

Sendang Drajad

Dengan ditarik seorang temanku, akhirnya dapat terlalui juga ujung tebing ini. Kali ini tanah lumayan datar terpampang di depan. Bahkan sesekali turun. “Koq malah turun?” Dalam hati terus bertanya. Saat ini, kami memang berada di ujung sebuah bukit, namun belum sampai puncak, karena Hargo Dumilah ada di puncak bukit lain di seberang sana. Kali ini perjalanan lebih ringan. Setelah berjalan beberapa menit, melalui sebuah tikungan, sampailah di tempat tujuan untuk istirahat. Sendang Drajad, begitu di sebut. Konon Sunan Drajad pernah menetap di sini sehingga sendang (mata air) yang ada di sini adalah warisannya. Tempatnya sederhana, hanya ada sebuah kolam dengan air jernih. Di sampingnya ada sebuah rumah, yang belakangan kuketahui adalah sebuah warung. Aneh.. di ujung gunung seperti ini ada rumah dan penduduk. Lalu kamipun menuju ke sebuah goa di samping sendang itu. Goanya kecil, mungkin hanya muat untuk 7 orang, pun tidak tinggi sehingga aku harus menunduk untuk memasukinya. Sampai di sini, kuletakkan ranselku , lalu kurebahkan badan. Beberapa teman yang lain ada yang berjalan2 menikmati pemandangan. Sebagian mulai mengambil air wudhu di sendang, sedang si Rahman sibuk menyiapkan kompor spirtusnya, untuk masak air dan indomie.  Suasana pun menghangat. Sambil minum kopi, makan indomie dan bercengkrama kami menanti matahari terbit. Aku keluar goa setelah pak Ali membawa pisang goreng dari warung samping sendang. Wah enaknya..

Lalu aku berniat solat subuh. Bersama Budi, Rahman, dan seorang lagi kami menuju sendang mengambil air wudhu. Ketika kubuka sepatu dan menginjak tanah. Nyessss… Rasanya seperti menginjak balok es, dingin bukan main. Lalu cepat2 aku pakai kembali sepatuku, tidak berani berwudhu dengan air sendang. Lalu aku menggunakan air embun di pucuk2 daun untuk membasuh muka dan tangan, karena memang tidak terlalu dingin dibandingkan air sendang. Kamipun lalu menuju sebuah tanah datar, Rahman berdiri di depan sebagai imam. Dengan masih bersepatu aku solat subuh. Hening, dan sepi sekali. Benar2 terasa sejuk dan damai.

Setelah salam, kami berzikir sejenak. Tapi tiba2 kami terperanjat, tertawa terbahak2, melihat kekonyolan kami. Dalam suasana damai, kami melihat samar2 pemandangan di depan mata. Perlahan-lahan, langit memerah. Kemudian berubah menjadi kuning. Awalnya, mungkin hanya fenomena alam saja, hingga cahaya terang mengintip di ujung jauh sana. “Wakakaka…”. Suasana pun pecah, merubah suasana damai menjadi keributan. “Woi.. kita solat ngadep ke timur.. wakakaka…”. Kamipun tertawa terbahak.

Edelweis, lambang cinta abadi

Pagi telah datang, menyaksikan sunrise dari sendang drajat sangat indah sekali. Pantas saja pendaki selalu ketagihan untuk menyaksikan pemandangan ini. Apalagi kalau dari puncak ya? Kami pun memanfaatkan momen ini untuk berfoto2 ria. Aku berfoto2 di antara rerimbunan pohon edelweis, sang lambang cinta abadi ini. Seikat bunga edelweis dan beberapa kembang warna-warni yang lain aku petik sebagai aksesoris untuk berfoto. Berbackground sunrise, kami semua memanfaatkan momen yang jarang ditemui ini.

Sinar matahari pagi tlah sampai di ujung2 daun edelweis, udara lebih hangat sehingga aku melepas jaket2ku. Kamipun melanjutkan perjalanan ke Hargo Dumilah. Pagi itu sangat indah sekali, bunga edelweis bertebaran di mana2. Sekuntum, du akuntum, bahkan ada yang memetik beberapa ikat sepanjang jalan. Ketika melihat edelweis merah, kami berlarian, mencoba berebut mendapatkannya, seperti anak2 kecil berebut permen. Walaupun akhirnya si Nordin yang kekar itu yang mendapatkan warna merah terbanyak. “Woi.. woi.. kita pecinta alam oi.. jangan merusak..” Begitu teriak salah seorang temanku, padahal sudah ada seikat edelweis di tangannya. ” Gombal. “Ini kan tanamannya Gusti Alloh, jadi gak papa dong kita petik”. Begitu jawab temanku yang lain. Bunga ini sebenarnya biasa saja, namun saat masih segar, kelihatan indah sekali, apalagi yang berwarna merah. Ketahanannya yang tidak bisa layu layaknya kembang biasa, serta tumbuhnya yang hanya di puncak gunung memang layak mendapat julukan lambang cinta abadi. Konon katanya, kalau seseorang memberi bunga yang dipetik sendiri dari pucuk gunung ini kepada kekasihnya, maka cintanya akan abadi. Prett… Berlomba-lomba dengan rakus kami memenuhi ransel kami dengan edelweis.

Hargo Dumilah

“Ke kiri Hargo Dalem, ke kanan Hargo Dumilah. Ke kanan oi..” Teriak seorang temanku di depan. Kami menyusuri sabana. Mulai sedikit menanjak lagi. Tumbuhan perdu, rumput2, dan edelweis berada di sekeliling kami. Suara burung2 merdu terdengar. Beterbangan rendah sangat menggoda untuk dikejar. Jalak Lawu, begitu nama burung itu. Burung ini memang tidak bisa terbang tinggi. Aku, budi, dan mulyono pun iseng2 untuk mencoba menangkapnya. Berlarian kami mengejar, namun ketika seolah tinggal selangkah, kami kehabisan napas, sehingga tidak bisa menangkapnya. Karena frustasi, kami melempari saja burung2 itu dengan batu. Beberapa teman lain mengikuti.

Bau kemenyan tiba2 menyengat di hidung. Bulu kuduk berdiri. Setelah melewati sebuah tikungan kami sampai di sebuah tempat mirip kuil. Sepertinya tempat bertapa. Katanya sih namanya Pawom Sewu. Tempat ini berbentuk tatanan/susunan batu yang menyerupai candi. Dulunya digunakan bertapa para abdi Raja Parabu Brawijaya V. Uff.. Kami cuek saja, dan hanya bertanya arah menuju Hargo Dumilah. Setelah ditunjukkan kami pun bergegas menuju arah yang dimaksud. Setelah berjalan kira2 15 menit, setelah melewati sebauah gundukan tanahh, dan beberapa tanaman yang berjajar seperti pagar, sebuah pancang beton ada di depan mata. Hargo Dumilah, 3.265 mdpl. Alhamdulillah… Akhirnya sampai juga kami di sini. Puncak Lawu sederhana saja. Sebuah pancang beton dengan tinggi kira2 setengah meter, bercorat-coret tangan jahil pendaki. Sekelilingnya, tanah agak datar, dengan beberapa pohon rendah. Namun, subhanallah.. ketika aku melihat ke sekeliling. Serasa di ujung bumi. Semua seperti ada di bawah kami. Melihat ke timur, matahari masih terlihat rendah. Terlihat pundak2 pegunungan menghijau. Di sebelah barat, jelas terlihat ujung dua gunung bersaudara, merapi dan merbabu. Sebelah utara, hamparan tanah luas tak bertuan, semakin jauh terlihat semakin membiru. Sebuah gunung lain yang tidak kukenal juga terlihat dari sini. Dan sebelah selatan, aku tidak percaya melihat ini. Awan2 putih seperti kapas terhampar di bawah. Bukan di atas. Serasa di bawah telapak kaki. Ingin rasanya aku melompat, layaknya melompat ke atas kasur empuk.

Subhanallah… Kami pun beristirahat, berfoto2, menikmati puncak Lawu ini. Kami menuju ke sebuah ujung tebing batu untuk berpose. Rasanya jauh lebih puas, daripada menjadi rangking 1 setelah melalui ujian akhir semester. Bebas, merdeka, benar-benar totalitas yang sempurna. Rasa letih, dingin, lapar, dan sakitpun seperti tak terasa, terbayar tuntas oleh pemandangan di sini. Kami semua bereuforia, ada yang menulis2 namanya di tanah, di kayu pohon, di mana saja. Aku dan beberapa teman berteriak-teriak memanggil-manggil teman yang lain yang tidak bisa ikut pendakian. “Bu.. Aku pesan soto plus es jus..” Begitu teriak seorang temanku, merindukan makanan kesukaan kami. Soto n Es Jus samping SMA. Begitu heroik, seperti pahlawan yang muncul ketika film mencapai klimaks. Superhero membantai musuh2nya. Lawu, engkau ada di bawah kakiku sekarang..

under: Relaxation
Tags: ,

Older Posts »

Categories