Matahari mulai condong ke barat. Kami masih berada di lereng Lawu, di samping sebuah sungai. Rasa stres, frustasi, dan ketakutan yang mencekam terus menghinggapi kami. Teriakan2 minta tolong terdengar menusuk gendang telinga hingga menjalar ke hati. Membuat pilu orang yang mendengarnya.
Pengakuan Dosa
Ketika keadaan hampir tak terkendali, pak Ali meminta kami berkumpul. Dia adalah murobbi kami semua, sehingga kata2nya selalu kami dengarkan. Penampilannya yang tegas dan tegar, tampak tidak ada satu ketakutanpun di wajahnya, membuat kami sedikit tenang, walaupun aku tahu, pasti ia akan menjadi orang paling bertanggung jawab atas kami semua. Kami berkumpul mendengar wejangan pak Ali, dalam suasana sendu, kata2nya lebih merasuk batin kami. Tidak seperti ketika ngaji, yang kadang aku mengantuk jika mendengarkannya berceramah. Pelan2 ia berujar, menatap dalam mata kami satu per satu. “Teman.. teman..”. Ia menghela nafas sejenak, tampak beban berat ada di fikirannya. “Kita tersesat. Mungkin ini ‘teguran’ dari Allah atas kesombongan2 kita”. Kami hanya tertunduk mendengarkannya. “Kita terlalu sombong, menganggap remeh gunung Lawu ini. Alahhh.. masih di Indonesia aja koq”. Aku semakin merasa bersalah, karena itu kata2ku tadi siang. “Kita juga telah berbuat dzolim terhadap alam ini. Terhadap makhluk Allah yang lain. ‘Ini kan tandurane Gusti Allah’. Kita begitu rakus, merusak, memetik bunga edelweis tanpa perasaan”. Aku memegang tasku yang memang berisi penuh bunga edelweis. “Mengejar, dan melempari burung2″, lanjutnya. Rasanya semakin membuatku berdosa, yang melakukan itu semua hanya untuk sebuah ‘keisengan’ atau ‘kesenangan’ belaka. Sungguh sangat berdosa aku, menzolimi makhluk2 ini. “Mari kita luruskan niat, kita ke sini untuk bertadabur. Agar kita lebih dekat dengan Allah. Mengetahui keagungan ciptaan2nya, salah satunya gunung Lawu serta semua makhluk di dalamnya”. Sangat menyentuh sekali. “Mari kita beristighfar, memohon ampun atas kekhilafan kita. Kecerobohan kita. Dan atas dosa-dosa kita telah berbuat zolim”. Lalu, iapun memimpin doa, istighfar, memohon ampun pada Allah.
Setelah itu, kamipun melanjutkan perjalanan. Kini rasa tegar dan optimis dari pak Ali menular kepada kami. Hingga kami sampai ke sebuah lereng curam lagi. Ingin turun ke sungai, terlalu dalam. Ya Allah, ternyata cobaan ini belum berakhir. Tiba-tiba seseorang berteriak kencang. “Woi.. semuanya. Buang semua bunga edelweis kalian. Kita berdosa merampok bunga2 ini. Buang semuanya”. “Ya benar, buang semua bunganya, kembalikan semuanya”, teriak rekan yang lain. Tanpa pikir panjang, kami mengeluarkan bunga edelweis masing2. Karena fikiran kami sudah mentok. Kukeluarkan seikat edelweis yang aku petik tadi pagi. Termasuk edelweis merah, hasil rebutanku dengan Nordin. Pupus sudah harapanku untuk membawakan edelweis dari puncak Lawu. Dengan segenap tenaga, aku lemparkan edelweis itu ke semak2. Allahu Akbar.. Wuss.. Aku hanya terdiam memandangi edelweis yang terlempar kemudin tertelan rimbunnya tanaman paku. Teman2 melakukan hal serupa.
Survival
Langit masih cerah, namun telah berubah menjadi kekuning-kuningan. Matahari hampir sembunyi di sebelah barat. Kira2 hampir jam 5 sore. Karena kami ada di lereng gunung saja, sehingga matahari masih tampak gagah di ujung sana. Kalau di kampungku, jam segini pasti hanya cahaya kuning yang tersembur di langit. Kami memutar otak mencari cara untuk turun ke sungai, karena tak ada jalan lagi di depan. Entah siapa yang mendapatkan ide ini, beberapa orang menarik sebuah batang kayu yang sudah kering, sekitar 4 meter panjangnya. Lalu mereka mendorong kayu itu, tegak lurus ke dasar sungai, menjadikannya sebagai tiang untuk ‘prosotan’ turun ke sungai. Bergegas satu per satu kami turun. Memeluk kayu itu kemudian melorot ke dasar sungai. Budi melemparkan tasnya ke dasar sungai. Bukk.. Karena akan membebani, aku pun ikut2an. Gedebukk… Sial, salah sasaran, tasku mengenai bebatuan, terlihat beberapa barang bawaanku tercecer karena tas yang robek. Tapi, aku tidak peduli. Aku menuju kayu itu, mulai berpegangan dan melorot ke bawah. Sampai di dasar sungai, perih rasanya tangan dan dada serta perutku. Kayu kering yang tidak halus, serta terdaopat beberapa bekas cabang di kayunya menggores2 di badan. Kembali kami di dasar sungai, mengisi persediaan air minum. Tanpa peduli, air yang aku masukkan dalam jerigen adalah bekas kami injak2. Tanpa lama2 kami mencoba menaiki bukit di sebelah kiri sungai. Pemandangan dari sejak siang tadi, rimbunnya tanaman paku, setia menunggu di depan mata.
Dasar sungai terasa lembab, mungkin banyak pacet atau lintah di sungai seperti ini. Aku melihat2 ke air, takut kalau2 ada piranha. Karena rasanya aku serasa di sebuah sungai pedalaman amazon saja. Tak ada makanan yang tersisa, hanya beberapa gumpal gula jawa sebagai persediaan cadangan. Beberapa sachet marimas, dan air sungai ini. Kami harus benar2 survival dalam keadaan seperti ini. Aku berusaha mengerahkan pikiran untuk mengingat2 tentang cara survival seperti yang diajarkan waktu kelas 1 dulu, tapi sia2. Karena aku sering tidak memperhatikan ketika ekstra pramuka. Huruf morse, cara membuat api, membuat tanda SOS, dan sebagainya tiba2 lenyap dari otakku. Yang aku ingat hanya salah seorang teman cewek di pramuka dulu, yang sering aku lirak-lirik sama teman sebangkuku. Dasar geblek.
Matahari semakin turun, cahaya hanya terlihat di ujung2 bukit. Di dasar sungai terlihat seperti sudah waktu magrib. Kami merangkak-rangkak, membabat tanaman paku di lereng bukit, mencari jalan agar sampai ke atas bukit. Pak Ali telah memberi komando, mungkin kami akan bermalam di hutan ini, jadi satu2nya jalan adalah mencari tanah datar di atas bukit untuk bermalam. Duri-duri paku terus menggores2 di tangan. Kalo dilihat hampir mirip dengan pecandu narkoba yang sering menyayat tangannya sendiri untuk diminum. Di lereng bukit ini, kami berbaris meliak-liuk seperti ular. Dan pasti, Nordin sebagai kepala ularnya dan aku sebagai ekornya. Tidak terdengar lagi nyanyian2 kami seperti saat baru memasuki hutan perawan tadi pagi.
“Sol.. do.. iwak kebo.. re.. mi.. fa.. sol.. iwak tongkol..
mi..re.., mi..re.. mlebu warung nyolong tempe..”
Itulah soundtrack perjalanan kami tadi pagi. Aku mengajarkannya pada Budi dan Mulyono. Dan tertawa terbahak2 setiap kami menyanyikannya.
Matahri semakin turun, kami memutuskan solat ashar di tempat kami sekarang. Tak ada air, kami bertayamum dengan daun2 paku. Posisi kami tidak jelas. Tidak ada shaf seperti pada umumnya. Masih berbanjar, pak Ali mengimami di depan. Tak terlalu jelas suaranya. Ketika dia rukuk, di belakangnya baru rukuk, begitu seterusnya sampai aku paling belakang. Kalau dilihat seperti permainan merobohkan barisan kartu domino. Yang di depan ambruk, di belakangnya mengikuti. Sampai-sampai, di depan sudah salam, aku masih rukuk. Posisi sujud dan duduknya pun tak jelas, karena kami di lereng, tanah miring, sehingga sebisanya saja kami mengerjakannya. Kami juga tak menghadap kiblat, karena kalau kami memaksakannya bisa-bisa kami tersungkur ke dasar sungai waktu hendak sujud.
Keputus-asaan
Selesai salam, kami terus mencoba mencari ujung bukit ini, sampai matahari tenggelampun kami belum menemukan tanah datar untuk beristirahat. Mendung mulai menggantung di langit. Menambah pekat dan gelap malam ini. Kami mengeluarkan senter masing-masing. Baterai cadangan dipasang. Senterku yang mulai redup tidak aku ganti baterai, karena baterai cadanganku diminta seorang teman yang lupa membawa baterai cadangan. Rintik hujan mulai terasa. Kabut tebal perlahan-lahan meyelimuti kami. Rasanya lelah kaki ini untuk melangkah. Pegal seluruh tubuh ini. Dan perih tangan serta hati kami, menderita seperti ini. Pak Ali masih mencoba menggoyang-goyangkan handphonenya, mencoba mencari sinyal, walaupun hasilnya nihil. Mata ini menerawang ke angkasa, mencari-cari siapa tahu ada sebuah pesawat yang melintas. Telinga dibuka lebar2, mencoba mencari-cari suara seseorang, atau pak penebang kayu yang siapa tahu masih ada di sekitar sini.
Beberapa lama kami berjalan, gerimis semakin deras dan akhirnya menjadi hujan. Mantel hujan aku keluarkan dan aku pakai. Berjalan dan terus berjalan, hanya itu yang kami bisa. Perut mulai terasa ‘keroncongan’. Tenaga rasanya sudah tak ada lagi. Habis energi kami, habis asa kami untuk bisa pulang ke rumah dengan selamat. Akhirnya kami sampai di tanah agak datar. Pak Ali memerintahkan untuk beristirahat sejenak. Masih dalam berbaris seperti ular, kami berhitung satu per satu dari depan. Satu.. Dua.. sampai aku yang terakhir. “Enam Belas..”. Ahh, sedikit lega, kami masih lengkap. Tidak bertambah juga. Nggak kebayang kalau tiba-tiba aku mengucap:” Tujuh Belas..”. Lah, siapa penyusup yang masuk barisan? Merinding jadinya.
Lalu kami duduk di posisi masing2. Dengan menyandarkan dagu ke lutut, bersedekap menahan dingin aku terduduk diam. Suara air hujan, daun2 yang basah, dan suara2 binatang hutan menjadi penghias. Kami telah putus asa. Musnah, dan pikiran kosong. Tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Habislah riwayat kami. Nama-nama dan foto2 kami, mungkin akan terpampang di Solopos dan media2 besok lusa. Keesokannya, sejumlah tim SAR dan anjing pelacak akan mencari kami. Sesak dada ini membayangkannya.
Keyakinan
Hampir setengah jam kami terdiam di tempat kami berada. Hujan belum juga reda. Keutus-asaan menyelimuti kami. Tampaknya pak Ali juga sudah putus asa dengan HPnya, yang kini sudah mati total tak bernyawa lagi. Melihat kami tertunduk lesu. Dia langsung berdiri dari duduknya, menyuruh kami merapat. Dengan nada lirih dan sayup-sayup, ia kembali menyuntikkan kata2 penyemangat buat kami. “Teman-teman, kita mungkin tersesat. Tapi kita tidak boleh putus asa. Karena apa?” Kami hanya termenung, seperti korban kebakaran merenungi harta bendanya yang telah hangus. “Karena di sini. Di sini..” Katanya menegaskan, sambil menepuk dadanya. “Kita selalu yakin, yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah selalu ada. Selalu mendengar doa-doa kita”. Terdengar mantap, mencoba membangun kembali asa kami. “Ingatlah bahwa Allah tidak akan menguji hamba-hambaNya melebihi daripada kemampuan hamba itu sendiri”. “Tidak ada sesuatupun yang terjadi di muka bumi ini diluar kuasaNya”. Kali ini lebih bersemangat. “Bahwasanya tidak ada satu daunpun di seluruh hutan ini yang jatuh ke tanah tanpa seizinNya”. Mataku menatap dedaunan di sekitar kami. “Semua, telah tertulis di Lauhul Mahfudz”. Kini terdengar seperti saat orasi ketika berdemo menentang Israel. “Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah di sini. Allah memberikan kita ujian berat ini, karena Allah Maha Tahu kita kuat. Kita pasti bisa melewati ini”. Kata-katanya benar-benar membakar semangat kami. Membuat mendidih darah ini. Serasa ada energi hebat mengalir di tubuh yang lemah, karena dari kemarin tidak makan nasi. Hingga membuat si Arif berteriak dengan kencang, tak kalah dari pak Ali ia mencoba memberi semangat bagi kami. Namun dengan konsep yang berbeda. “Gah.. pokoke aku wegah turu ning kene. Aku pengin turu ning ngomah. Turu ning kasur”. Teriaknya dengan kencang dalam bahasa jawa, yang artinya ia tak mau tidur di hutan, ingin tidur di kasur, di rumah. Sedikit kocak, namun membuat kami tambah semangat. Kontan, teman2 langsung menjawab tak kalah keras. “Ya, aku juga. Pengin tidur di kasur spring bed”. Arif lalu menambahkan: ” Aku pengin makan masakan ibuk”. Rahman lalu menjawab, “Aku pengin makan soto di tempat mbok jus”. Lalu tanpa diperintah, semua berteriak meneriakkan keinginan2 konyol mereka tentang makanan. Aku juga tak kalah. “Aku oengin makan di warungnya simbah, samping GOR”. Salah satu tempat makan favoritku. EMB pokoke, Enak, Murah, Bergizi.
Akhirnya, dengan sambil tertawa2 kecil demi mendengar kekonyolan motivasi kami, kami bergegas untuk berjalan lagi. Tak peduli betapa letihnya kami, tak peduli akan ketemu jalan keluar atau tidak, tak peduli betapa laparnya perut ini, atau mungkin justru karena perut yang lapar ini, kami jadi bersemangat lagi. Kami serasa mendapatkan ‘baterai cadangan’ pada energi kami. Melangkah menembus malam, hujan, dan lebatnya hutan. Hanya beberapa puluh meter kemudian, beberapa orang teriak2 di depan. Tapi bukan teriakan soal makan lagi. “Alhamdulillah… Subhanallah.. Allahu Akbar”. Mereka teriak2 memuji Allah. Aku langsung lari ke depan. Mencoba mencari tahu. Kontan, tergetar hati ini. Tidak bisa untuk tidak memuji asma Allah. Terlihat tanah datar di depan, agak lapang tanpa tanaman paku di sana-sini. Sebuah ‘jalan’ terbentang di depan mata. Harapan kami membumbung setinggi langit, padahal beberapa menit yang lalu, beberapa meter dari sini tadi, kami telah habis harapan, putus asa. Kami menemukan sebuah ‘jalan’.
Way Home
‘Jalan’ yang kami temukan memang bukan jalan dalam arti sebenarnya, bukan jalan seperti cemoro sewu atau cemoro kandang. Kami juga tidak tahu akan kemana jalan itu berakhir. Jalan itu hanyalah tanah licin, seperti selokan namun dangkal, dengan rerumputan tumbuh di samping2nya. Memanjang jauh menuruni bukit, tidak kelihatan dimana ujungnya. Tidak tahu jalan apakah itu, namun kata si Rahman, itu adalah jalan para penebang liar, yang menyeret kayu hasil tebangannya untuk dibawa turun sehingga sampai di bawah sana. Terlepas benar atau tidak, yang penting kami telah menemukan kembali harapan kami. Jalan itu tampak masih licin, artinya masih sering dilewati orang, yang pasti menuju ke sebuah perkampungan penduduk. Dengan wajah ceria kami menyusuri jalan itu. Langit kini mulai cerah secerah hati kami, hujan tlah usai, yang tersisa tanah licin dan dedaunan yang basah. Dingin tak begitu terasa lagi. Lampu2 senter banyak yang mulai mati, sebagian karena habis baterai, sebagian karena mati kehujanan tadi. Sehingga, dua-tiga orang hanya memakai satu senter. Sambil bercerita2 seperti waktu berangkat kemarin malam, kami menuruni jalan berliku itu. Setiap kurang lebih 15 menit, kami berhitung dari depan ke belakang, mengecek kelengkapan tim. “Woi.. jalan bercabang”. Tiba2 kami berhenti di sebuah percabangan jalan. Kami bermusyawarah sejenak. Seperti ketika di persimpangan jalan sebelum tersesat tadi pagi. “OK. Kita sama2 tidak tahu kemana arah jalan ini. Kita telah putuskan, kita akan ambil jalur ke kanan setiap ada persimpangan. Bismillahirrahmannirrahiim”. Pak Ali memberi komando, tanpa ada satu orang pun yang mencoba mendebat. Kami melanjutkan perjalanan, dan mengambil jalan ke kanan setiap menjumpai persimpangan. Saat itu, jam sembilan malam. Sudah 13 jam kami berjalan sejak turun dari puncak pukul 8 tadi pagi. Padahal kalau melalui cemoro sewu normalnya hanya sekitar 3 jam, atau 2 jam jika berjalan lebih cepat.
Candi Cetho
Langit semakin cerah, walau bukan bulan purnama, bulan bersinar terang. Sehingga atk perlu pakai senterpun jalan tetap kelihatan. Milyaran bintang bertengger di angkasa sana. Tak ada mendung lagi yang terlihat. Sesekali udara dingin menghembus ke wajah. Sudah lama kami berjalan, hanya berbekal air hujan di jerigen, kami terus menyusuri jalan, hingga akhirnya kami melihat di kejauhan. Sebuah tempat dengan banyak lampu2 di bukit depan. Terlihat kontras, karena gelap di sekitar tempat itu. Lampu2 rumah penduduk juga mulai terlihat di bawah. Benar2 lega hati ini, kami telah benar2 keluar dari hutan dalam kedaan selamat. Tak ada lagi pikiran negatif di kepalaku.
“Ya.. tak salah lagi, itu cetho.. Candi Cetho”. Mulyono mengungkapkan keyakinannya teentang tempat penuh lampu di kejauhan itu. “O.. iya, bener itu cetho..”. Rahman mengamini. Budi pun tak ketinggalan, membenarkan tempat itu adalah candi cetho. Tempat yang kami tuju dari puncak, jalan yang ingin kami lalui. Aku hanya diam saja, karena aku belum pernah ke sana seperti mereka. Kini aku, Budi, Mulyono, dan Rahman berada di barisan terdepan. Kami memimpin rombongan. Jalan yang tadi menuntun kami tiba2 sudah menghilang. Kami berada di kebun2 sayuran milik penduduk. Berjalan di antara sayur-sayuran, melompati pematang kebun, dan kadang tak sengaja menginjak sayuran itu. Maaf ya pak, buk. Begitu batinku. Kami hanya menuju ke cahaya terang di depan, karena setahu kami di sanalah pintu ‘labirin’ ini berakhir. Rombongan tiba2 terpecah2, menjadi dua, atau tiga orang. Jaraknya juga jauh2, gak akan terdengar jika berhitung. Lalu, kami berempat berhenti sejenak, sebuah jalan lebar, rata, dan terawat di depan kami. Bukan aspal memang, namun cukup bagus, batu2 dan pasir menjadi konstruksinya. Ke arah kanan, jalan itu menuju ke candi cetho, ke kiri menuju perkampungan di bawah sana. Lalu kamipun memutuskan untuk menuju perkampungan, bukan candi cetho, tujuan awal kami. Beberapa saat kemudian, lewat sebuah mobil menuju candi cetho. Semakin yakin kami telah selamat. Jauh kami berjalan menyusuri jalan rata tadi. Kaki serasa keriting. Dan akhirnya sampailah di sebuah kampung. Masih terlihat beberapa warga yang begadang. Kamipun ditanya2, dan balik bertanya2, menceritakan bahwa kami tersesat sepanjang hari ini. Aku langsung menuju emperan sebuah rumah, membanting tas, membaringkan tubuh yang sudah tak karuan rasanya, sambil menanti teman2 yang belum sampai. Terlelap sejenak, terdengar riuh di sekitarku. Rupanya semua orang telah sampai, berkumpul di warung sebelah memesan kopi panas. Aku pun lalu menyusul mereka. Sambil menikmati kopi dan makanan ringan, terdengar pak Ali mengobrol di depan, mencari sebuah mobil yang bisa mengantarkan kami pulang. Lalu akupun tertidur lagi, karena badan tak kuat lagi. Saat itu sekitar jam 11 malam. Beberapa saat kemudian, aku dibangunkan, dengan setengah sadar aku mengangkat ranselku, lalu melompat ke sebuah mobil pick-up. Rasanya baru semenit mobil berjalan, dan aku memejamkan mata, kami telah sampai di masjid Assalaam. Alhamdulillah…
Esoknya, kami berjanji akan makan soto n es jus di samping SMA..
“Sol.. do.. iwak kebo.. re.. mi.. fa.. sol.. iwak tongkol..
mi..re.., mi..re.. mlebu warung nyolong tempe..” 
-tamat-
dedicated to Assalaam Team